Career Issue, Selasa, 09/05/2017 13:55 WIB

Memandang Sukses dengan Sebelah Mata : Success is Overrated!

Memang bisa ya sukses dipandang hanya sebelah mata? Atau jangan-jangan definisi sukses itu sudah amburadul, dan jadinya ya..ups, abstrak! Simak saja pengalaman si Joni ini.
Memandang Sukses dengan Sebelah Mata : Success is Overrated!
Tetiba Joni merasa ada sesuatu jatuh menimpa mata kanannya. Bukan sesuatu yang keras, tajam, dan menyakitkan. Hanya saja, sekecil dan selembut apapun sesuatu, akan berbuah risih yang nyata, ketika mata yang diusiknya.

Persis seperti dag dig dug ser hati insan, ketika mantan yang disinggungnya. Untungnya ini mata, jadi gampang dikucek-kuceknya. Tapi tak kunjung lega jua mata kanan Joni, walaupun sudah dia remas-remas sekuat tenaga foto centil sang mantan, sambil me-menjeb-menjeb-kan bibir. Kabut tipis yang memendarkan cahaya kini menghiasi pandangan sebelah mata Joni. Tak lekang oleh air maupun obat tetes mata. Semuanya menjadi putih menyilaukan tatkala cahaya terang, dan buram menyamarkan saat cahaya redup. Siang itu, mata kanan Joni menolak melayani tuannya.

Dalam hidup, pada umumnya, dan setiap aktifitas di dalamnya, pada khususnya, sering orang terlarut dalam senyawa jenuh rutinitas. Seakan badan bergerak auto-pilot mengikuti rel yang pakem, sementara jiwa, yang seharusnya memegang kemudi, mengembara entah ke mana. Sampai suatu saat roda hidup melindas polisi tidur yang menghentak, mengguncang batin dengan pertanyaan “Apa yang aku lakukan di sini?” Inilah kisah Si Joni.

---

Praktis sejak saat itu Joni bermata satu, sampai nanti akhirnya mata kanannya di operasi. Sehari-hari dia masih bisa melihat dan beraktivitas dengan sebelah matanya. Malangnya, sampai hari operasi, sepuluh hari kemudian, matanya harus terus ditetes tiga macam obat setidaknya lima kali sehari, dan dia tidak bisa berkendara dengan keadaan demikian demi alasan keamanan. Ojek daring jadi teman akrabnya ke mana-mana, karena dia paling tidak suka merepotkan orang lain. Sebenarnya sejak lama dia ingin mencoba aplikasi ojek di mana saja itu. Tapi kalau dia mengira itulah hikmah di balik musibah yang dialaminya, di samping kaca mata hitam pinjaman yang mesti dipakainya, maka dia akan nyengir-nyengir sendiri nanti, karena ada hal besar lagi yang hendak dia dapatkan.

Tidak berlebihan jika Joni berpikir ojek daring adalah suatu hal yang luar biasa. Bukan saja murah dan praktis. Lebih dari itu, joki-joki yang ramah-ramah memaksa Joni keluar dari dalam benteng zona nyamannya. Sebagai sosok yang pendiam dan tidak suka berbasa-basi, mengobrol dengan orang yang baru dikenal, dan hanya akan bertemu sesaat saja selama perjalanan, di tengah suasana jalan yang hiruk pikuk, sambil naik motor berboncengan dan tidak berhadap-hadapan, itu bagaikan memaksa Vin Diesel memakai high heel dan bergoyang gergaji diiringi organ tunggal orkes pantura. Toh hal itu terjadi juga pada Joni, mungkin suatu saat juga pada Vin Diesel. Selalu ada pertama kali untuk segala sesuatu. Bukan hal yang mengejutkan ketika ternyata Joni menikmatinya, kalau tidak dibilang ketagihan.

Mendengar cerita beraneka rasa dari belasan pengendara ojek yang dia tumpangi, menjadi makanan jiwa yang begizi bagi Joni. Dari cerita sedih, lucu, sampai yang biasa-biasa saja. Ada pengendara ojek galau yang sedang kuliah S2. Katanya jadi pengendara ojek itu bisa menjadi hiburan penyegaran di tengah penatnya perkuliahan dan ujian. “Saya merasakan kebahagiaan tersendiri bisa mengantar orang ke tujuannya”, ujarnya setengah berpuisi, dan membuat Joni gagal menyembunyikan ketakjuban di balik senyuman. Seorang bapak muda yang rumahnya tidak jauh dari rumah Joni dengan enteng ceria bercerita “Saya biasa keluar jam 12 malam, nanti sampai jam 1 siang, karena motornya harus gantian dengan istri yang masuk kerja. Terus gantian saya yang momong anak di rumah,” ketika Joni bertanya, “Kok jam 4 pagi sudah narik Mas?”

Nada-nada dari joki-joki kuda besi itu rata-rata seirama; suka cita, ramah, penuh harapan dan terdengar apa adanya. Tidak hanya satu yang bahkan sampai mengucap “Saya bangga memakai jaket seragam ojek ini!” Semua sesi ojek ini memuaskan Joni, semuanya dia beri bintang lima. Bukan karena gaya mengemudinya, kenyamanannya, apalagi ketertibannya, yang sejujurnya rata-rata masih membuat Joni garuk-garuk helm. Tapi karena obrolan yang selalu berhasil menyiram jiwanya dan menggugah pikirnya. Didukung dengan sifat pendiamnya, Joni cepat belajar menjadi pendengar yang baik. Tak dinyana oleh Joni, ternyata obrolan lepas tanpa tendensi, alias total basa-basi, bisa menyemai bibit-bibit empati dalam dirinya. Tidak berhenti sampai di situ, empati yang walaupun masih bibit-bibit itu, membuatnya kuat dan tenang menyikapi masalahnya sendiri. Bahkan masalahnya sendiri jadi terlihat kecil dan mudah.

Setengah tidak tega, Joni memikirkan masa depan mereka. Karena dia yakin suatu saat jumlah pengendara ojek akan semakin banyak, dan tidak mungkin perusahaan terus mensubsidi bonus dan diskonnya. Bagaimana nasib mereka nanti? Akan tetapi kerutan di dahinya tidak bertahan lama, dan dia pun terplengah-plengeh sendiri, malu-malu geli, ketika benaknya menjawab pertanyaannya sendiri. “Oalah Jon, Jon. Memangnya dirimu dulu pernah menyangka bahwa kamu akan tiba-tiba diambil sebelah matamu secara mak plekenyik (remeh di luar dugaan) begitu? Setelah itu apakah hidupmu terguncang keras? Bumimu gonjang-ganjing begitu?” Joni mengangguk-angguk kecil kepada teman khayalannya, sambil memejam-mejamkan mata genit.

“Life is not fair, get used to it,” kata Bill Gates, yang dicap khalayak ramai sebagai salah satu orang sukses. Jangankan semua fasilitas, kemudahan, dan pencapaian, hal-hal bawaan yang kita punya dan menempel pada diri kita pun bisa hilang sewaktu-waktu sekonyong-konyong. Bahkan itu sebuah keniscayaan. Sebagaimana datangnya malam dan siang, kesenangan dan kesusahan akan datang dan pergi dalam hidup manusia. Waktunya kapan dan sebabnya apa, teramat banyak hal di luar kendalinya. Pada saatnya, entah cepat atau lambat, sekarang atau nanti, mau tidak mau setiap orang akan dipaksa berjuang dan bersusah payah. Entah itu akibat dari pilihannya, atau karena sesuatu yang di luar kuasanya. Entah itu dengan kerelaan dan kesengajaan, atau dengan paksaan tanpa pilihan. Justru pilihannya adalah mau menyengaja atau dipaksa. Untaian nalar itu terjalin runtut di benak Joni.

---

Laksana John Nash menguak sandi dan merangkai konstelasi, semua jelas dan utuh sekarang bagi Joni. Bahkan sebelum matanya dioperasi. Dia mengejar sesuatu yang sangat kecil selama ini dalam hidupnya, padahal dia bisa menggapai bintang. Ibarat dia punya tambang emas di lahannya, bukannya dia tambang emasnya, tapi malah dia tanami singkong. Sebenarnya dia bisa menjadi Power Rangers, ini malah terima saja menjadi Kingkong. Pekerjaan yang bagus, bayaran yang memadai, karir yang terus menanjak, segala macam fasilitas kemewahan hidup, adalah singkong yang selama ini dia tanam dan idam-idamkan buahnya. Sementara lahan emas yang dia tidak tambang adalah karakter dan sifat-sifat baiknya, yang akan mempertahankan senyumnya, baik ada maupun tidak ada singkong. Malah kalau dia bisa bentuk karakternya, sifat-sifat baiknya, tentunya tidak susah baginya untuk mendapat singkong-singkong itu kalau dia mau. Emas satu kilo dapat singkong berapa ton coba? Siapa yang tidak mau mempekerjakan orang dengan karakter dan sifat-sifat yang baik?

Bersusah payah mengejar karir, harta benda, bukanlah hal yang jelek atau salah. Tetapi Joni sadar sekarang, betapa sayangnya. Karena waktu yang dia habiskan pun sama, sekali saja umurnya, dan banyak hal yang di luar kendalinya yang nanti akan mempengaruhi pencapaiannya. Waktu yang sama jika dia gunakan untuk bersusah payah memperbaiki karakter dan sifatnya, maka sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Syarat untuk mendapatkan pekerjaan dan karir yang baik terpenuhi, riuh rendah dan naik turunnya roda kehidupan siap dihadapi, dan lebih dari itu hidupnya menjadi lebih berarti dengan hasrat memberi manfaat kepada orang lain.

Seperti Roma yang tidak dibangun dalam semalam, karakter dan sifat membutuhkan waktu untuk terbentuk. Masa muda adalah saat-saat yang subur, di mana energi dan hasrat sedang besar-besarnya. Sayang, kalau kesempatan yang sekali itu tidak digunakan untuk hal-hal yang besar pula. Arahnya pun tidak berlawanan, antara kesuksesan karir dan finansial, dengan pembentukan karakter dan sifat. Orang mungkin bisa mendapat limpahan finansial karena warisan, tanpa susah payah. Tetapi dia tidak akan disebut sukses karenanya.



Penulis    : Bima Ardhitya

Editor      : Vinia R. Prima

Grafis      : Bentar Sadani

Tags : definisi sukses, tip sukses berkarir, tips melamar pekerjaan, career issue, career article
Memandang Sukses dengan Sebelah Mata : Success is Overrated! | CAREERNEWS
1474882794_release_960_rev.png